jump to navigation

Impian “Si Kuda Jantan” November 27, 2007

Posted by fajarfajar in Kisah Inspirasi.
trackback

Taken from : Ketika Maut Telah Datang: Kisah-kisah dari Tarikh, Oleh : Endang Basri Lugina, Penerbit: CV Lugina, 1995

Pada suatu hari, nabi Muhammad s.a.w sedang berada di Masjid Nabawi, Madinah  bersama para sahabatnya. Tiba-tiba datanglah seorang laki-laki bertubuh tegap masuk ke dalam masjid. Mukanya tampak merah, penuh keringat
. Matanya bersinar tajam, memancarkan keteguhan hati. Dari desah napasnya nyata sekali bahwa dia baru saja melakukan perjalanan jauh.

Tanpa menengok ke kiri atau ke kanan, orang itu terus berjalan mendekati rasulullah s.a.wa.

“Ya, Rasulullah …,” katanya tanpa  lebih dulu memperkenalkan diri,”Saya baru saja melakukan perjalanan jauh selama sembilan hari sembilan malam sambil menahan lapar dan haus. Hal ini saya lakukan hanya karena ingin mendapatkan petunjuk dari Rasulullah. Apakah tanda-tanda manusia yang tidak dikehendaki Allah?” tanya lelaki itu dengan tergopoh-gopoh.

Melihat sikap orang itu, sebenarnya para sahabat Nabi merasa jengkel juga. Tetapi rasulullah hanya tersenyum dan berkata, “Duduklah dulu, Sahabat … Bukankah kau belum memperkenalkan diri?”

“Ya Allah …, sampai saya lupa… Nama saya Zaid, ya Rasulullah. Tetapi teman-teman memanggil saya Zaidul Khail. Zaid “Si Kuda Jantan!” jawab lelaki itu tersipu-sipu.

“Oh, kau bukanlah Zaidul Khail, tetapi Zaidul Khair, yaitu Zaid yang mencintai kebajikan! Nah, coba ulangi lagi pertanyaanmu tadi,” sahut Rasulullah.

“Apakah tanda-tanda orang yang dicintai Allah dan apakah tanda-tanda orang yang tidak dikehendaki Allah?” tanya Zaid.

“O, begiru! Nah sekarang …, bagaimana perasaanmu setiap kali kau bangun pagi hari?” tanya Rasulullah.

Dengan semangat berkobar-kobar, berkatalah Zaid,”Si Kuda Jantan” itu, “Setiap kali saya bangun pagi, ya Rasulullah …, saya selalu merindukan kebajikan. Kemudian saya pun ingin bertemu dengan orang-orang yang suka berbuat kebajikan, dan ingin pula saya berbuat kebajikan. Bahka, bila dalam sehari saja saya tidak sempat berbuat kebajikan, hati saya merasa sedih sekali, ya rasulullah … Dan bila berbuat kebajikan, saya berusaha ikhlas, tidak mengharapkan apa-apa, kecuali keridlaan Allah semata-mata …,” jawab Zaid dengan penuh perasaan.

“Nah, itulah tanda-tanda manusia yang dicinta oleh Allah subhanahu  wa ta’ala,” sahut Rasulullah seraya tersenyum, sehingga hati Zaid merasa puas sekali.

Komentar»

No comments yet — be the first.